Bahasa Indonesia
merupakan bahasa pemersatu Bangsa Indonesia yang besar ini, yang terdiri dari
berbagai suku bangsa dan bahasa. Bahasa Indonesia pertama kali dideklarasikan
sebagai bahasa nasional pada hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928, dan
diresmikan sebagai bahasa nasional berdasarkan UUD 1945 pasal 36.
Berabad-abad yang lalu
Bahasa Indonesia belum terbentuk seperti sekarang ini. Bahasa Indonesia
terbentuk dari percampuran Bahasa Melayu, Sanskerta, Arab, dan juga sedikit
bahasa Portugis dan Belanda akibat penjajahan. Berdasarkan catatan sejarah,
Bahasa Melayu digunakan oleh Kerajaan Malayu (Kerajaan Hindu-Budha) yang
berkuasa pada abad ke-7 Masehi di hulu sungai Batanghari, Jambi – Sumatera.
Pada akhir abad ke-7 Kerajaan Sriwijaya mengambil alih kekuasaan Kerajaan
Malayu, dan Kerajaan Sriwijaya (Kerajaan Hindu-Budha) yang menguasai jalur
perdagangan turut menyebarkan Bahasa Melayu ke daerah-daerah lainnya di
Nusantara sampai ke Filipina. Aksara yang digunakan adalah aksara Pallawa. Asal kata 'aksara' merupakan sebuah istilah bahasa Sansekerta yang berarti suku kata yang bersifat sakral. Aksara adalah sebuah sistem penulisan bahasa dalam bentuk simbol yang memiliki bunyi (fonem). Kerajaan Melayu yang sudah tersingkir bermigrasi ke Semenanjung Malaka
(Semenanjung Malaysia) dan membangun kembali kerajaannya.
Berikut ini adalah ilustrasi sejarah perubahan Aksara Pallawa :
![]() |
| Wikipedia. 2011, Berkas : Pallawa. [online] <http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Palllawa1.jpg> [Accessed 30 November 2011] |
Jika ditelusuri lebih
jauh ke belakang, akar Bahasa Melayu itu sendiri adalah Bahasa Sanskerta yang sudah
ada sejak sebelum masehi. Menurut penelitian Sir William Jones, Bahasa
Sanskerta merupakan rumpun bahasa Indo-Eropa yang penyebarannya meluas ke
daerah Eropa menjadi Bahasa Jerman, Armenia, Baltik, Slavia, Roman, Keltik,
Gaulis, dan di daerah Asia menjadi Indo Iranika dan Indo Arya (daerah India).
Sir William Jones, pada kesempatan berceramah kepada Asiatick Society of Bengal di Calcutta, 2 Februari 1786, berkata:
"Bahasa Sanskerta, bagaimanapun kekunaannya,
memiliki struktur yang menakjubkan; lebih sempurna daripada bahasa Yunani, lebih
luas daripada bahasa Latin dan lebih halus dan berbudaya daripada keduanya,
namun memiliki keterkaitan yang lebih erat pada keduanya, baik dalam bentuk
akar kata-kata kerja maupun bentuk tatabahasa, yang tak mungkin terjadi hanya
secara kebetulan; sangat eratlah keterkaitan ini, sehingga tak ada seorang ahli
bahasa yang bisa meneliti ketiganya, tanpa percaya bahwa mereka muncul dari
sumber yang sama, yang kemungkinan
sudah tidak ada."
sudah tidak ada."
Wikipedia. 2011, Bahasa Sanskerta. [online] <http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sanskerta> [Accessed 30 November 2011]
![]() |
| Bahasa Sanskerta adalah cabang dari Indo-Arya, yang berasal dari rumpun Indo-Eropa. Bahasa Sanskerta banyak mempengaruhi Bahasa Indonesia yang kita kenal saat ini Kaskus, 2009. Bahasa Indo-Eropa. [online] <www.kaskus.us/ showthread.php?t=2617595> [Accessed 28 November 2011] |
Penyebaran Bahasa
Sanskerta ke Asia Tenggara diperkirakan terjadi pada abad ke-1 dan 2 Masehi
melalui perdagangan laut oleh bangsa India. Jalur perdagangan ini selain
membawa bahasa juga membawa penyebaran agama Hindu dan Budha yang dimulai di
daerah Sumatera dan menyebar ke daerah Jawa, Kalimantan, hingga Indonesia Timur
sampai abad ke-15. Bahasa Sanskerta yang selama kurun waktu + 15 abad
telah diadaptasi menjadi Bahasa Melayu menjadi bahasa yang dipakai sehari-hari
sebagai bahasa perdagangan pada masa itu. Bahasa perdagangan yang dipakai
disebut sebagai Bahasa Melayu Pasar, sedangkan bahasa yang dipakai dalam
lingkungan kerajaan disebut sebagai Bahasa Melayu Tinggi. Namun selain daripada
itu, Bahasa Sanskerta yang tersebar di daerah Jawa juga menjadi bahasa Jawa
kuno yang dipakai di Kerajaan Hindu-Budha seperti misalnya Kerajaan Majapahit
yang berkuasa pada abad 13-15 Masehi. Bahasa Sanskerta yang telah diadaptasi
secara langsung ke Bahasa Indonesia yang banyak dipakai menjadi bahasa
sehari-hari sekarang ini misalnya adalah bahasa, cahaya, pahala, anugerah,
bagian, bangsawan, bidadari, cerita, cinta, dan masih banyak lagi.
Masuknya pedagang arab
sejak abad ke-9 Masehi turut memberikan sumbangan terhadap ragam kata Bahasa
Indonesia. Pedagang arab turut menyebarkan agama Islam melalui transaksi
perdagangan sehingga pada akhirnya Kekuasaan Islam mulai menguat sejak abad ke-13
Masehi dimana bentuk kekuasaannya adalah kesultanan. Kata-kata Arab yang
diserap menjadi Bahasa Indonesia misalnya adalah abad, bandar, daftar, edar, fasik, gairah, hadiah, hakim,
ibarat, jilid, kudus, mimbar, sehat, taat, dan wajah.
Pedagang Portugis yang
mulai masuk ke tanah Nusantara sejak abad ke-16 Masehi juga memberikan
kontribusi terhadap Bahasa Indonesia, seperti misalnya algojo, bangku, dadu,
gardu, meja, picu, renda, dan tenda. Para pedagang Belanda yang masuk ke
Nusantara sejak awal abad ke-17 Masehi hingga pada akhirnya menjajah Indonesia
selama 350 tahun turut memberikan banyak konstribusi terhadap Bahasa Indonesia,
misalnya seperti abonemen, bangkrut, dongkrak, ember, formulir, dan tekor.
Sejak deklarasi Sumpah
Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, Bahasa Indonesia ditetapkan menjadi bahasa
persatuan. Komisi Bahasa Indonesia didirikan pada tanggal 20 Oktober 1942, yang
bertugas menyusun tata bahasa normatif, menentukan kata-kata umum dan istilah
modern. Bahasa inilah yang digunakan dalam proklamasi kemerdekaan Republik
Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Sampai sekarang,
Bahasa Indonesia masih merupakan bahasa yang terus berkembang dengan menyerap
berbagai kata-kata baru yang saat ini bisa dikatakan lebih banyak diserap dari
kata-kata dalam Bahasa Inggris. Sehingga suatu saat, harapan kita semua sebagai
Bangsa Indonesia, Bahasa Indonesia dapat menjadi bahasa yang memiliki keragaman
kata-kata yang luas dan tata bahasa baik yang menggambarkan ciri bangsa kita
dan juga sebagai pemersatu bangsa kita sendiri, yaitu Indonesia.


No comments:
Post a Comment